Jumat, 13 Maret 2015

Bedawat-Unga, PARADISE FALLS OF LANDAK, WEST BORNEO

BEDAWAT-UNGA #3
(March 6-8th 2015)
PARADISE FALLS OF LANDAK, WEST BORNEO

Bagi saya bersyukur sekali tahun ini adalah kali ketiga saya mengunjungi tempat eksotis di kabupaten Landak ini.
2013 saya bersama teman2 Dange Pijan ber 5 (Hedi, Paulus, Enyan, Hendra)
2014 saya bertiga bersama adik saya (Hedi) dan rekan yang bekerja di Papua yang sedang pelayanan di Sekolah Kristen Makedonia Ngabang (Bram)
2015 tidak menyangka animo rekan2 sekerja saya Di SKM benar2 diluar dugaan. Bahkan wanita2 yang konon dianggap “lemah” mau ikut bersama kami para pria.

Tim petualang kali ini kami menyebutnya KOPASKA SKM karena destinasi yang kami tuju adalah wilayah perairan yaitu sungai dan air terjun. Riam Bedawat dan air terjun Unga menjadi spot destinasi kami.
Tim kami (Hendro, Eki, Jhon, Yudi, Yopi, Ugot, Pedrina, Hana, Puspa, dan Maria Goreti) plus rekan-rekan yang menyusul hari berikutnya dari Dange Pijan (Hendra dan Bapak Rafi)
Berangkat bermotor setelah mengajar jam 1 siang sampai serimbu jam 4 sore. Kami lanjut ke desa Dange Pijan dan Dange Aji yang merupakan desa terakhir yang bisa ditempuh bermotor. Beristirahat sebentar di rumah Bapak Imel sambil menunggu hujan reda. Kami bertekad untuk meneruskan perjalanan walau disarankan untuk istirahat dan bermalam dulu di kampung itu. Jam 5.30 sore kami berangkat melalui jembatan gantung. Dengan senter kepala dan para wanita dibagian tengah rombongan maka kami pelan2 berjalan. Pos 1 di pondok belian bisa ditempuh 1,5 jam dari Dange Aji. kami sempat tersesat karena mengambil jalur kanan dimana saat itu jalur kiri tertutup pohon tumbang, alhasil tanjakan menaiki bukit sampai ladang dan pondok orang. Kami sepakat kembali ke persimpangan dan ternyata benar pesan orang2 kampung “ambil jalur kiri terus jangan kanan”. Berhenti sebentar untuk makan malam, buat api unggun mini dan mengisi air minum dari sungai. Saat itu jam sudah menunjukkan pukul 8 malam. Kami lanjut menuju Pos I yaitu Pondok Belian (terdapat beberapa pondok untuk transit kayu belian2 yang akan dihanyutkan lewat air). Tiba di sana sudah pukul 11.30 malam. Suasana malam yang membuat jalan terasa berbeda dan stamina wanita yang tidak setara dengan pria membuat kami maklum perjalanan malam ini akan  terasa panjang. JIWA KORSA !!!.
Kami membuat api unggun kecil dan beristirahat sejenak.

Tantangan berikutnya adalah tanjakan menyusuri bukit untuk turun kembali dan berharap sampai di Pos II Pohon Embun dalam waktu setengah jam. Titian bambu yang kita lewati selama perjalanan adalah 22 titian yang harus dilewati dengan hati2 karena malam, licin habis hujan dan penerangan yang kurang maksimal. Bagi beberapa rekan wanita ini adalah pengalaman pertama sehingga perlu adaptasi. Kami tiba di pos II tersebut pukul 12 malam berhenti untuk masak mie serta nasi bungkus dan menyempatkan memancing sebentar untuk sekedar formalitas saja, karena pancing yang kami lempar langsung nyantol batu alhasil kami putus saja senarnya. Jam 1 kami bertolak dari pos II pohon embun ini menuju basecamp dan tantangan terbesar kami adalah menyeberangi sungai selebar 20m dengan titik2 tertentu yang berarus deras dan dalam.

Tidak mudah menyeberangi sungai dengan beban berat dipundak dan melompati batu2 seperti olahraga ekstrem perancis “parkour”. Terlebih membantu rekan wanita kami yang berjumlah 4 sangat menguras tenaga dan perhatian, namun itulah indahnya perjalanan, sesuatu yang diraih dengan susah payah dan bersama-sama lebih bermakna ketimbang sesuatu yang gampang diraih secara individual. Pedrina salah satu rekan wanita kami kehilangan powerbank yang dipakainya sebagai senter. Barang itu lenyap bersama arus sungai dan kegelapan malam. Sejak saat itu perasaannya menjadi lain…..
Kami perlu waktu 1 jam menyeberangi sungai itu….
Tiba ditepian sungai tantangan kami berikutnya adalah melewati hutan yang cukup banyak variasi medan naik turun, melewati halang rintang kayu, masuk celah batu goa, serangan pacet, dan beberapa jalur jalan yang membingungkan.
Bagi saya membawa rekan2 tiba pos II adalah suatu prestasi tersendiri, apalagi kalau bisa lolos dari penyeberangan sungai dan menyusuri hutan pada malam hari rasanya perlu keajaiban, karena saya sendiri beberapa kali meragu untuk ambil jalan. Saya bersyukur rekan2 bersama2 membawa tanggung jawab ini dan saling menjaga, mengingatkan satu sama lain. Kami tercengang melihat jam sudah menunjukkan pukul 4 pagi tapi belum sampai juga. Akhirnya mengingat beberapa teman wanita sudah terlampau lelah karena sudah berjalan kurang lebih 8 jam dan sepertinya sudah bosan dengan jawaban saya yang kalau ditanya “berapa lama lagi sampai????”….saya jawab 30 “menit lagi” dan jawaban itu ternyata sudah 5x saya lontarkan…disitu saya merasa sedihL
Kami sepakat mendirikan tenda di cekungan tanah dekat sungai dan batu besar. 1 tenda dome untuk wanita di tanah dan 2 tenda dome pria kami dirikan di atas batu.
Sebenarnya percuma saja tidur 2 jam menjelang pagi karena kami nyatanya tidak tidur hanya pejamkan mata dan berharap untuk tahu dimana lokasi kami ini….sudah lewat ataukah malah masih jauh panggang dari api….


Jam 6 pagi kami observasi lokasi, ada yang masak, mancing, berburu, saya sendiri berusaha menebus “dosa” saya dan segera memutuskan observasi ke atas….benar saja setengah jam kemudian saya sadar kami belum sampai tujuan….dengan HT ditangan saya kabari “basecamp darurat” kami untuk segera makan seadanya, packing, dan lanjut perjalanan…..disitu saya merasa senangJ
Setelah packing pukul 8.30 pagi kami lanjut perjalanan menuju perlintasan sungai lagi. Perjalanan kali ini agak ringan karena kami tau ada dimana dan tujuan sudah jelas. Alur jalan hutan yang jelas dan suara gemericik deras air sungai membuat kami serasa bersemangat. Walau begitu kami tidak lupa membuat tanda goresan parang di pohon yang kami lalui untuk berjaga2.
Dibeberapa tempat kami menemukan jejak kubangan babi hutan yang mencari sumber air.
Syukurlah, base camp sudah nampak di ujung penyeberangan sungai terakhir dan legalah kami,
Seperti perlintasan berikutnya, dengan jiwa korsa kami sama2 melintasi sungai ini. Tiba dengan selamat di basecamp pukul 9.30.
Di tepian sungai berpasir ini kami segera bagi tugas, pasang tenda, cari kayu bakar, masak dan observasi lokasi dengan cara berfoto ria…
Tidak lama berselang rekan kami dari Dange Aji yaitu bapak Rafi dan Hendra tiba juga di lokasi kami. Mereka tidak menyangka kami bisa tiba disini dengan penuh kenekatan.
Mereka langsung pasang pukat dibeberapa spot aliran sungai dan tidak butuh lama beberapa pukat sudah terisi dengan ikan….ikan2 inilah yang menemani nasi kami yang sudah matang di periuk dengan kuah tempoyak. Ikan sungai ini beberapa jenis seperti ikan “Tangis” bisa sebesar paha manusia bila sudah dewasa dan biasanya di bulan juli pukat2 yang dibawa berukuran besar berharap memiliki keberuntungan mendapatkan ikan “Tangis” ini.







Acara selanjutnya yaitu kami bersantai ria menikmati menyelam, berenang, membuat tajur, masak, berfoto2 di riam bedawat yang berjarak 100m dari basecamp kami. 


Karakteristik “Riam Bedawat” ini bertingkat 5 dengan jarak yang relatif sama memiliki ketinggian 75m, cukup artistik seperti kolam. 




























Jam 12 siang kami makan siang dan bersiap mendaki ke air terjun Unga jam 12.30 siang.
Jam 12.30 siang beberapa dari kami mendaki bukit menuju Unga sedangkan yang lain karena terlihat letih/ oyoh memutuskan tinggal di tenda.
Perjalanan menuju Unga bisa ditempuh dalam waktu 1- 1,5 jam dengan melipir pinggir sungai, parkour di bebatuan sungai, menyisir punggung bukit. Dalam perjalanan kami menemukan satu batu yang ditulis dengan iseng/ vandalisme. Masih tetap seperti tahun lalu, berarti belum ada penambahan pengrusakan pemandangan. Cukup gembira dengan hal itu. Kami menancapkan papan slogan bertuliskan “JANGAN CORET BATU” sebagai upaya sosialisasi kepedulian lingkungan termasuk perbuatan vandalism ini.
Di tingkat 4 menuju Unga kami junga menancapkan papan slogan bertuliskan “Lestarikan Enggang”. Enggang merupakan burung maskot Kalimantan tertutama suku dayak selain burung Ruai.
Bulan Juli 2014 saya dan rekan2 sempat menyaksikan sejumlah pasang burung enggang yang beterbangan antara pepohonan di riam Bedawat dan Unga bagian atas. Suatu pemandangan yang langka terutama bagi saya yang bukan orang suku pribumi bisa melihat langsung burung yang diambang kepunahan ini.
Kenapa enggang begitu penting bagi jantung hutan Kalimantan yang mulai tergerus ini adalah karena:

https://id-id.facebook.com/notes/ian-apokayan/burung-enggang-lambang-kehidupan-suku-dayak/237606456334062Burung Enggang = Lambang kehidupan suku Dayak

Enggang atau Rangkong (bahasa Inggris: Hornbill) adalah sejenis burung yang mempunyai paruh berbentuk tanduk sapi tetapi tanpa lingkaran. Biasanya paruhnya itu berwarna terang. Nama ilmiahnya "Buceros" merujuk pada bentuk paruh, dan memiliki arti "tanduk sapi" dalam Bahasa Yunani
Dalam tradisi adat dan budaya Kalimantan, burung Enggang (tingan) merupakan simbol "Alam Atas" yaitu alam kedewataan yang bersifat "maskulin".

Enggang adalah burung khas asli Kalimantan, burung ini hidup bebas di belantara hutan Kalimantan.  Burung Enggang memiliki kemampuan terbang amat tinggi dan amat jauh, sanggup terbang antar pulau. Biasanya beristirahat dan bersarang di puncak-puncak pohon yang tinggi. Keberadaan burung Enggang amat erat kaitannya dengan masyarakat suku Dayak.

Burung Enggang bisa dikatakan sebagai lambang kehidupan suku Dayak.  Perpindahan burung Enggang dari satu tempat ke tempat lainnya melambangkan perpindahan suku Dayak dari satu daerah ke daerah lainnya pada masa lampau. Hampir seluruh bagian tubuh burung Enggang ( bulu, kepala, paruh dll ) menjadi lambang lambang dan simbol kebesaran suku Dayak.  
Masyarakat Dayak sangat menjunjung tinggi keberadaan dan kehidupan Burung Enggang, oleh karena Burung Enggang dijadikan sebagai lambang kebesaran, perdamaian dan persatuan; sehingga dalam kehidupan sehari-hari burung enggang senantiasa dipakai dalam bentuk patung, ukiran, lukisan, pakaian adat, rumah adat, balai desa, monumen, pintu-pintu gerbang, bahkan digunakan juga di kuburan-kuburan.

Manusia tradisional memang selalu akrab dengan dunia simbol. Tato pada laki-laki Dayak, kuping panjang pada wanita Dayak, atau "coretan-coretan" artistik pada wajah dan tubuh suku Asmat (Papua), semuanya tentu mengandung makna-makna tersendiri sebagai ungkapandiri terhadap keberadaan mereka dalam komunitasnya.
Bulunya yang indah, disimbolkan sebagai pemimpin yang dikagumi oleh rakyatnya. Sayapnya yang tebal, menggambarkan pemimpin yang melindungi rakyat. Suaranya yang keras, menandakan perintahnya yang selalu didengar oleh rakyat. Dan ekornya yang panjang, dilambangkan sebagai pertanda kemakmuran bagi rakyatnya. Dengan kata lain, begitulah seharusnya(idealnya) seorang pemimpin bagi masyarakat Dayak.

Orang Dayak memang selalu dekat dengan alam. Dari alam mereka hidup dan dari alam pula mereka mengambil makna dalam kehidupannya. Dengan demikian, mengambil hutan atau tanah dari kehidupan orang Dayak, sama saja dengan mencabut mereka dari akar-akar kehidupannya.Tercerabut dari akar-akar kehidupannya. Seperti ikan yang dipisahkan dari air.
Tentunya di kemajuan jaman seperti ini dimana perambahan hutan dan perubahan budaya agama yang berkembang tentunya harus membuat suku dayak sendiri lebih arif dalam menghemat sumberdaya alam dan makhluk hidup di dalamnya.
Hutan yang dirambah saja sudah cukup untuk mengusir enggang dari habitatnya apalagi dibunuh.
Maka diperlukan sosialisasi berkala dan bersifat urgent dari pihak terkait terutama insan2 peduli lingkungan di tanah dayak ini untuk saling mengingatkan, memotivasi dan kalau perlu menangkarkan kembali burung ini, jadi tidak hanya burung simbolis saja.
 “Membunuh seekor enggang gading itu sama dengan membunuh dua burung enggang sekaligus karena satwa ini tidak mampu bertahan hidup tanpa pasangan," kata Rudi Zapariza, Project Leader Sintang-Melawi, WWF-Indonesia Program Kalbar, dilansir dari Mongabay Indonesia, Kamis (29/8).
Lantaran fauna ini berperan sebagai penyebar benih di hutan. Jika populasinya makin berkurang, pertumbuhan benih pohon-pohon hutan juga lambat. Akibatnya, hutan yang merupakan habitat banyak satwa, sumber penghidupan bagi masyarakat sekitar, dan penyumbang oksigen terbesar bagi manusia, akan terancam.
“Kebanyakan orang tidak sadar fungsi enggang ini di alam. Apalagi waktu reproduksi terbilang lama. Jika terus diburu, bukan tak mungkin enggang hanya tinggal nama bagi anak cucu kita.”

Lanjut ke perjalanan
Sejak kunjungan pertama saya kesini saya begitu jatuh cinta dengan air terjun Unga ini. Bila dilihat dari sudut terbawah yang bisa kita lihat maka air terjun Unga ini bertingkat 8-10. Dimana dibeberapa tempat kita bisa menaikinya secara panjat tebing setinggi 3 meteran. Tentu perlu pertolongan teman dan doa yang sungguh agar kita selamat menaiki tebing mini itu. Beberapa tempat juga memiliki teras yang berundak undak berbentuk kotak seperti piramide mesir.
Melihat dari dekat tingkat pertama adalah impian saya setiap saya ke tempat ini. Sayang beberapa rekan menolak ikut untuk explore lebih ke atas.















Jadilah saya memberanikan diri melipir ke arah bukit untuk sampai ke tingkat pertama. Tidak mudah dan penuh kehati-hatian karena beberapa tempat sangat curam, licin dan tentu sebagai tamu yang bukan orang asli sini tentu mengedepankan asas “kepasrahan” pada sang Pencipta.
Setelah beberapa kali terhalang dinding tanah berbatu dan harus melipir lagi saya akhirnya bisa mencapai dataran yang setinggi tingkat pertama tapi saya mengurungkan niat untuk lebih dekat karena terhalang turunan yang curam dan tertutup semak2 rapat. Pun guntur sudah bersuara diatas sana. Kemungkinan akan turun hujan. Selain itu rekan2 saya pasti sudah sangat khawatir. Maka saya merekam sebentar tingkat pertama itu sebelum kembali. Areanya tidak begitu luas hanya searea 6m2, tidak terlihat danau luas dan memiliki ketinggian 125m. samping kanan kirinya dilindungi tebing tinggi yang solid, “angkuh” dan menantang.
Menuruni bukit dengan tergesa-gesa bukanlah sesuatu yang disarankan bila mendaki ke unga apalagi tanpa sepatu sandal dan parang yang lupa dibawa, sehingga tak butuh lama kaki saya tergores duri dalam karena memaksa masuk semak dan menuruni turunan yang curam….apalagi tanda pohon yang dipatahkan sebagai penanda sudah tak nampak atau sudah malas melihatnya. Yang penting jangan sampai menjauh dari aliran sungai. Benar saja setelah berjibaku dengan semak duri puji Tuhan saya bisa merapat kembali ke aliran sungai walau pada lokasi yang berbeda ketika pergi tadi. Rekan2 sepertinya sudah tak nampak dan saya memakluminya. Apalagi hujan mulai membayangi. Apa yang saya bayangkan ternyata meleset sampai di basecamp rekan2 saya ternyata belum kembali. Saya yang merasa bersalah sudah merepotkan mereka khawatir juga dan hanya bisa berdoa. Tidak lama ternyata mereka bisa pulang dengan selamat. Disitu saya merasa bersalah sekaligus senang bisa bertemu kembali. Tidak lupa saya menyampaikan minta maaf pada rekan2 dan ucapan terimakasih pada Yopi yang sudah rela membawakan sandal dan parang saya.
Siang dan sore itu kami lewatkan dengan bersenang senang dan berfoto ria di riam bedawat dalam rangka menancapkan papan slogan “Ayo lestarikan Enggang”.
Beberapa ikan hasil jerat pukat menjadi lauk kami malam harinya.
Setelah itu kami mempersiapkan alat2 tajur dan pemancingan. Selepas makan malam kami meluangkan waktu untuk memancing di sebuah kolam sungai yang cukup besar. Namun malam itu kami merasa tidak mood untuk mancing dan hanya memperoleh beberapa ikan, tak berapa lama kami kembali sambil mengecek tajur. Syukurlah hasil tajur cukup memuaskan hati dan bisa mengenyangkan perut yang sudah keroncongan. Malam itu karena terlalu oyoh kami segera meringkuk di dalam tenda dan sleeping bag untuk berbagi cerita konyol sepanjang hari itu….
Tak terasa jam 5 hari minggu kami bangun cukup segar dan ceria karena kami sudah merasakan beberapa pengalaman yang mengasyikkan dan hari ini akan kembali ke habitat kami dan orang2 yang kami cintai.
Breakfast...yummyyyyyy






Pagi itu setelah masak dan makan kami segera packing dan membakar sampah plastic yang ada. Tidak lupa karena tempat itu adalah lokasi camp, maka kami menancapkan papan slogan “bawa pulang/ bakar sampah plastikmu”. Berharap rekan2 petualang yang bertamu disini juga memiliki tanggung jawab yang sama dengan kita, yaitu tidak hanya menjadi “Penikmat Alam” tapi juga “Pecinta Alam” yang sesungguhnya. Karena plastic tak terpakai adalah sampah an organic yang cukup lama bisa terurai tanah. Konon mencapai puluhan tahun.  
Dengan berdoa syukur terlebih dahulu dan berfoto kami segera meninggalkan Riam Bedawat dan Air terjun Unga dan menuju Ngabang jam 9.30 pagi. Perjalanan siang tidak kalah melelahkan karena tas kami ternyata tidak berkurang beratnya karena membawa kembali bahan makanan yang tersisa dan hasil pembagian ikan hasil tangkapan.


Rincian perjalanan waktu pulang:
Basecamp-pos II pohon embun   9.30-11.00
Istirahat                                                11.00-11.30
Pos II pohon embun-pos I pondok belian  11.30-12.38
Pos I pondok belian-Dange Aji                12.38-15.00
Kelompok Kijang menjadi juara dalam perjalanan pulang sedangkan kelompok tronton harus puas diurutan kedua karena kegemaran mereka selfie dan beristirahat.


Beberapa hal menarik sebagai catatan perjalanan kami:
Lokasi itu cukup eksotis dan jauh dari jangkauan manusia. Menurut kami apabila dikelola dengan baik beberapa hal yang bisa dilakukan penduduk sekitar bekerja sama dengan pemerintah (atau sebaliknya pihak pemerintah daerah yang jemput bola dan berinisiatif terlebih dulu) adalah:
*      Membuka tempat itu untuk wisata alam via internet dan medsos
Ada baiknya membuka akses jalan tidak terlalu dekat dengan lokasi agar kelestarian terjaga (seperti di riam Manangar). Desa Dange Aji berlokasi strategis sebagai pos awal sekaligus perijinan. Sehingga tempat ini menjadi wisata hutan khusus yang lengkap seperti: hiking, camping, snorkeling, diving, bird watching, penelitian hutan, dsb.
Tempat ini diharapkan menjading segmen pasar khusus bagi orang2 muda yang peduli lingkungan dan tidak hanya berhura-hura.
Secara berkala menutup lokasi pada waktu tertentu untuk pemulihan ekosistem. Seperti Taman Nasional Gunung Tengger Bromo yang secara berkala menutup pendakian agar vegetasi dan ekosisem alam kembali disegarkan.
Pemkab Landak sepertinya perlu mencontoh Pulau Jawa dalam merevitalisasi alamnya karena pulau jawa sudah terbatas sekali areal hutannya. Jangan sampai Kalbar yang menurut ”stasistik” masih berhutan, tanpa kita sadari sudah miskin hutan.
Kami pikir Karang taruna, Dinas Kehutanan dan Lingkungan Hidup, serta penggiat alam bebas seKalbar, Pramuka, Pecinta Alam, dan komunitas lain harus ambil tanggung jawab untuk melestarikan lokasi ini.
*      Memberdayakan pemuda desa untuk memperoleh pendapatan dari menjadi tukang parkir motor, penjaja perbekalan/ toko perlengkapan camping/ toko perlengkapan bahan makanan, menjadi guide, penjaga hutan dan denda bagi pengunjung yang melanggar aturan/ adat kampung
*      Keberadaan Enggang di sekitar kawasan itu perlu dijaga dengan membentuk satuan tugas patroli/ park ranger. Atau bisa di terapkan hukum adat yang disepakati bersama untuk melarang pembunuhan terhadap Enggang
*      Lokasi ini adalah sumber air bagi Kabupaten Landak dan Dange Aji pada khususnya, sehingga ijin pembukaan lahan sawit perlu dibatasi agar tidak mengganggu ekosistem hutan tua ini
*      Rotasi hidup Pohon Gaharu/ Cendana yang menjadi primadona bagaikan intan ini perlu disosialisasikan agar tidak hanya terus mengambil dari alam namun penduduk kampung diberi pelatihan dari pemerintah sehingga bisa membudidayakan gaharu secara mandiri. Informasi jenis gaharu dan update harga menjadi perhatian tersendiri bagi pemerintah sehingga mereka tidak “dikibuli” oleh pedagang besar
*      Memberi informasi bagi penduduk kampung pentingnya reboisasi. Contoh 1 pohon ditebang mengganti dengan 2 pohon, dsb
Kiranya petualangan tim Makedonia kali ini menginspirasi kita akan arti petualangan itu sendiri.
Bukan seberapa cepat anda menggapai puncak gunung, bukan berapa banyak tempat yang anda kunjungi, bukan seberapa tinggi tebing anda daki dan bukan seberapa luas area yang anda kuasai.
Tapi seberapa BERMAKNAnya petualangan anda dalam mendekatkan diri anda dengan alam terlebih pada Pencipta kita.
Jadi, kapan kita kemana?
SALAM LESTARI – Kopaska SKM 2015












3 komentar:

  1. Mantap ........ Kerennnnnnn..... Sip dah... Excited waterfalls

    BalasHapus
  2. Mantap gan...kapan ke sana lagi?

    BalasHapus
  3. Apakah ke dange aji bisa menggunakan mobil? Terima kasib

    BalasHapus